Kartu Kuning dari Jas Kuning

Share:
Kini, marak beredar info-info yang berkaitan mengenai Zaadit Taqwa seorang mahasiswa Fakultas MIPA dari perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia yaitu UI (Universitas Indonesia).
Banyak yang mendukung banyak pula yang mencaci.
Ya.. inilah yang akan terjadi bila seorang mahasiswa "nekat" memberikan kartu kuning kepada orang nomor satu di Indonesia yakni pak presiden pak Jokowi.
Untungnya... pak Jokowi tidak memenjarakan maupun menindak lanjuti hal ini dengan kekerasan, melainkan dengan cara kebapakannya yaitu menerjunkan langsung sang pemberi kartu kuning untuk merasakan sulitnya medan yang terdapat di Papua pedalaman khususnya suku Asmat.
Banyak komentar netizen yang menyerukan bahwa Zaadit memiliki gangguan jiwa dan lain sebagainya. Akan tetapi dari kalangan ibu-ibu juga banyak yang mendukung aksi "nekatnya" dengan berkomentar:
"Saya akan dukung kamu untuk tetap mempertahankan negara dan tidak gentar dalam berjuang demi hal yang baik. Melalui website kitabisa.com saya hanya dapat memberikan dorongan berupa materi. Lanjutkan terus perjuanganmu nak".
Begitulah salah satu komentar pro terhadap aksi ketua BEM UI ini.
Humor politik pun memposting salah satu kritikan pedas yang diberikan oleh seorang bernama Alvino Franseptian. Isi komentar dapat dilihat di Gambar.



Memang, sebagai mahasiswa yang tinggal di dalam negara demokrasi tidaklah hanya menuntut ilmu melainkan turut ikut serta mengawasi.
Peran mahasiswa sendiri yang sering disebut dengan Agent of Change, seharusnya tidak ikut merubah sikap kesopan santunan serta moral yang merendahkan diri sendiri di mata orang lain.
Terlebih seorang mahasiswa sering dianggap mengetahui dan dapat melakukan segala hal, faktanya mahasiswa juga hanya seorang manusia yang memiliki keterbatasan dalam berfikir maupun bersikap.
Problem serius yang dihadapi oleh mahasiswa, ketika jas kuning melayangkan sikap layaknya sedang berada di tengah-tengah pertandingan sepak bola dengan memberikan kartu kuning terhadap pemain yang melanggar.
Jas kuning serta kartu kuning memang warna yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda.
Ketahuilah, bahwa sikap seseorang sangat berpengaruh di mata masyarakat bahkan dunia.
Banyak cara yang lebih baik dan sesuai dengan aturan untuk berorasi maupun menyampaikan aspirasi rakyat. Tapi, mengapa banyak penduduk asli Papua justru bertolak belakang dengan opini dari ketua BEM UI terhadap Pak Jokowi?
Sebagai pembaca dan pengkritik alangkah baiknya bila kita tidak langsung menjudge, tetapi telusuri kebenaran dari informasi yang didapatkan.

Baca selengkapanya mengenai suku Asmat di link: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/asmat-suku-titisan-dewa-di-bumi-papua

No comments